Cerita Haru Dialog Bersama Dengan Pembenci HTI Dan FPI Yang Akhirnya..




DIALOG DENGAN PEMBENCI HTI DAN FPI

Oleh : Karim Indonesia

Ahad pagi 10/12/17 lalu, Karim Banjar (Jawa Barat) menghabiskan waktu mengobrol dengan salah satu Pembenci HTI dan FPI. Tak disangka, obrolan hangat itu menjadi sebuah jalinan cerita yang menurut Karim Banjar bisa dijadikan sebuah tulisan.

Namanya Agus Saeful Ujab, seorang Warga Banjar yang awalnya bertanya-tanya mengenai dunia otomotif dan dunia pendakian. Agus bertanya pada Karim Banjar, perihal mobil yang cocok untuk ditempeli Stiker Kalimat Tauhid Besar.

Karim Banjar pun bertanya, untuk apa beli mobil hanya untuk ditempeli stiker. Ia menjawab, dirinya ingin menunjukan pada orang-orang yang sombong itu, yang selalu mempersekusi Panji Rasulullah. Kami itu yang mencintai Panji Rasulullah bukan pasukan nasi bungkus yang dibayar dengan iming-iming harta dunia. Kami orang-orang mampu, pengusaha anti riba, yang dengan izin Allah dititipi sejumlah kekayaan yang bisa kami infaqkan untuk dakwah. Salah satu bentuknya, kendaraan, bisa digunakan untuk Syiar Panji Rasulullah.

Agus menuturkan, jauh sebelum dia mencintai Panji Rasulullah, dia awalnya membenci HTI dan FPI. Alasannya, HTI selalu memperjuangkan tegaknya Khilafah yang menurutnya akan memunculkan pertumpahan darah. Sementara itu, ia membenci FPI karena sepak terjang organisasi tersebut yang kerap melakukan sweeping dan aksi kekerasan.


Namun, apa yang ia lihat di Garut dan Aksi Bela Islam 212 lalu telah mengubah pandangannya terhadap FPI untuk selamanya.

"Ini kok Anggota FPI ngapain ada di daerah bencana. Waktu itu saya lihat langsung ke daerah terdampak bencana di Garut. Banyak orang-orang FPI pada bantu-bantu. Kok beda ya sama yang saya lihat di televisi," ujarnya.

Ia pun akhirnya pulang ke rumah dengan sedikit 'gangguan jiwa'. Apa yang ia yakini selama ini ternyata sangat bertolak belakang dengan yang ia lihat langsung di lapangan. Akan tetapi, dia tidak banyak berpikir dan melanjutkan kehidupan normalnya sehari-hari.

"Nah, Skenario Allah, Mas. Ketika 2 Desember 2016 lalu, saya sebetulnya sedikitpun ga berminat mengikuti Aksi Bela Islam 212. Tapi karena saya melihat berkali-kali konvoi Peserta Aksi Bela Islam 212 di jalan tol, saya akhirnya jadi penasaran ikut ke Jakarta. Apalagi ketika saya tanya kepada istri, dia mengiyakan. Ya sudah berangkatlah kami ke Jakarta," kata Agus.


"Aduh sial, Mas. Pada Aksi Bela Islam 212 tahun lalu itu, saya ketemu lagi sama orang-orang yang pakai baju FPI. Tapi luar biasa, mereka tertib, acaranya juga luar biasa rapi dan teratur. Padahal ada jutaan orang di sana, kok bisa gitu. Sialnya lagi, saya juga lihat banyak orang HTI yang bawa Ar Rayah dan Al Liwa waktu itu. Tapi kok mereka tertib-tertib ya," ujarnya menambahkan.

Sepulang dari 212 tahun lalu, 'gangguan jiwa' Agus semakin kronis. Dia jadi teringat kembali masa-masa awal ketika ia mempersilakan istrinya mengikuti kajian di HTI.

"Saya itu, Mas. Kadang suka aneh lihat istri saya. Kok dia kalau baca Siroh Nabawiyah gitu suka tiba-tiba nangis. Lalu kalau lihat berita-berita Palestina suka nangis. Saya padahal pernah pesantren loh, Mas. Tapi kok saya ga bisa seperti istri saya ya. Saya mulai berpikir apakah selama ini saya keliru. Kok hubungan saya dengan Allah SWT, dengan Rasulullah SAW, dan Umat Islam di negeri lain, kayak 'kering' gitu," kata Agus.

Karim Banjar masih menyimak sambil mengerenyitkan dahi, berusaha menangkap poin-poin penting dari yang Agus ucapkan. Pikirannya sudah melanglangbuana. Merangkai sebuah paragraf sistematis yang akan meringkaskan cerita Sang Pembenci HTI dan FPI. Menjadi sebuah tulisan yang semoga bisa menginspirasi pembaca lainnya agar membuat hal yang serupa. Sebuah tulisan yang persuasif. Bukan imajinatif atau fiktif, tapi cerita pendek berdasar pada sebuah fakta yang inspiratif.

"Mas mas, masih nyimak?," tanya Agus.

"Iya," ujar Karim Banjar.

"Nah, dari situ, saya penasaran sama HTI ini. Terutama soal Khilafah ini. Setiap ada acara-acara HTI, saya coba mengikuti. Saya sempat dipertemukan dengan Ismail Yusanto, Felix Siauw, Hari Moekti, dan Moekti Chandra. Dan saya sangat terkejut sama perkataan dua orang. Yakni Ismail Yusanto dan istrinya Hari Moekti yang saya lupa itu namanya," kata Agus.


"Ceritanya begini. Itu kan saya sama istri biasalah ya, Mas, suka ada selisih pendapat. Nah, istri saya mengadu ke istrinya Hari Moekti. Akan tetapi, saya sangat terkejut dengan nasihat istri Hari Moekti kepada istri saya. Dia menyampaikan, bagaimanapun kamu mesti taat pada suamimu," ujarnya.

"Saya kaget. Loh, kok malah istri saya disuruh taat sama saya. Beda gitu kalau mengadu sama ibu-ibu lain. Mereka malah ngomporin istri saya. Lah ini malah justru mendamaikan gitu loh, dan malah disuruh nurut sama suami," tutur Agus.

Karim Banjar mengangguk-angguk sambil terus menyimak. Tidak sadar sukro (kacang atom) yang dia makan sudah habis. Lalu dia lampiaskan rasa lapar paginya ke bala-bala (bakwan) yang ada di hadapannya. Alhamdulillah masih hangat.

"Enak, Mas?," tanya Agus.
"Enak. Mas Agus ga mau?," tanya Karim Banjar.
"Engga nanti aja sarapan nasi sekalian, Mas," jawabnya.
"Oh OK. Lanjut, Mas," ujar Karim Banjar.

"Nah, akhirnya saya menemukan jawaban yang mengubah sejarah hidup saya selamanya, Mas. Bukan hidup selamanya kayak tagline Karim itu ya, Mas. Tapi mengubah hidup saya selamanya," kata Agus.

"Saya tanya soal penegakan Khilafah yang pasti menurut saya berdarah-darah itu. Lalu Ismail Yusanto menjawab. HTI itu mendakwahkan gagasan Khilafah. Orang menerima Alhamdulillah, tidak menerima juga Alhamdulillah. Tapi tetap kita dakwahkan, tanpa paksaan dan tanpa kekerasan. Mengapa terus didakwahkan. Karena mendakwahkannya kewajiban dan kami yakin Khilafah suatu saat akan tegak sesuai dengan janji Allah. Kalau tanpa paksaan dan kekerasan, bagaimana mungkin bisa ada pertumpahan darah? Kami akan terus mendakwahkan sampai Umat Islam menerima gagasan itu, sehingga tercipta kesadaran umum dan mereka secara sukarela menegakkan Khilafah. Begitulah kurang lebih jawabannya, Mas," kata Agus.


Cuma sehabis itu, ya lagi-lagi, Agus beraktivitas normal mencari nafkah untuk istri dan keluarganya. Sampai Skenario Allah Yang Maha Rumit dan Maha Tidak Dimengerti menjadikan Agus saat ini sebagai salah satu Pejuang Syariah dan Khilafah di Banjar, Jawa Barat. Aktivitasnya tidak normal lagi, tidak biasa lagi, tapi menjadi luar biasa. Saat ini, ia memutuskan untuk ikut mengkaji pemahaman Islam dan menjadi pembela Panji Rasulullah.

Penutup :

"Awalnya itu saya ngaji ga sengaja, Mas. Alkisah teman istri saya seorang Akhwat HTI mau nikah. Tapi ya gitu, Mas. Dia cuma mau sama ikhwan yang mengkaji Islam, kalau bisa HTI juga supaya bisa sama-sama memperjuangkan Syariah dan Khilafah. Ya sudahlah, akhirnya saya jodoin sama kawan saya. Tapi karena syaratnya mesti mengkaji, kawan saya ga mau kalau ga ada temannya. Akhirnya saya yang temenin," ujar Agus.

"Setelah lama mengkaji. Teman saya malah mundur dan malah saya yang jatuh cinta loh, Mas," katanya.

Karim Banjar hampir tersedak bala-bala yang ia makan. Dan langsung buru-buru bertanya.

"Jatuh cinta sama akhwatnya?," kata Karim Banjar.

"Ya bukan, Mas. Sama HTI nya. Alhamdulillah saya sudah setahun mulai mengkaji pemahaman Islam sama orang-orang HTI. Saya juga yang awalnya biasa-biasa saja sama Panji Rasulullah, sama Ar Rayah, sekarang sangat mencintainya. Dulu sih biasa aja, benci juga nggak. Tapi semenjak dipersekusi, saya gak terima. Itu kan Panji Rasulullah, dalilnya jelas, bacaannya juga kalimat tauhid. Kok bisanya ada orang membencinya," kata Agus.

Karim Banjar bertanya pada Agus.

"Mas, gapapa kisahnya saya jadikan tulisan? Salah Mas sendiri kasih inspirasi," kata Karim Banjar.

"Ya gapapa silakan aja, Mas," kata Agus.

Kami pun melanjutkan obrolan kami di tempat lain sambil menikmati sarapan nasi telur dan kerupuk. Alhamdulillah, Karim Banjar bersyukur. Kenyang perut dan kenyang inspirasi.*

Keterangan Dialog :

Lokasi : Cidolog, Jawa Barat
Waktu : Ahad 10/12/2017 Pagi
Narasumber : Agus Saeful Ujab

Baca Tulisan Lainnya : 

Baca Tulisan Lainnya :



No comments