Penulis Buku Ini Mengaku Siap Jawab Tantangan Prof Mahfud Md



[Portal-umat.com], Husein Matla, seorang penulis buku sekaligus pengasuh salah satu pondok pesantren putri Al mabda'al islami semarang, mengaku siap  menjawab Tantangan Prof Mahfud Md.

Dalam akun facebooknya Husein matla menulis demikan

SAYA SIAP JAWAB TANTANGAN PROF. MAHFUD M.D.
DENGAN LOGIKA ANDA: BISAKAH KHILAFAH DIKATAKAN HASIL IJTIHAD JIKA KITA MELIHAT FAKTA-FAKTA INI?
1. Sampai akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, negara sudah sangat luas. Mengapa berikutnya Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak berbagi kekuasaan saja dengan Muawiyah. Bayangkan, dari Libya sampai Iran. Sekarang terdiri dari 20-an negara.
2. Berikutnya ketika terjadi perang saudara: Abdul Malik bin Marwan vs Abdullah bin Zubair, Marwan bin Muhammad vs Abul Abbas, Al Amin vs Al Makmun, Khumarawaih vs Al Mu'tadhid Billah. Mengapa ujungnya harus integrasi. Bukan bagi dua. Bukankah masing2 amir sudah memegang wilayah lebih besar dari NKRI sekarang? Mengapa para ulama mendukung keharusan integrasi? Mengapa tidak seperti pembagian Romawi atau pembagian Jenggala-Panjalu?
3. Mengapa Amir Abdurrahman ad-Dakhil tidak mau menyatakan diri sebagai khalifah, padahal sudah memegang penuh wilayah Spanyol Portugis. Mengapa ia membiarkan khalifah Abu Jafar al Manshur sebagai khalifah satu2nya padahal kapal2 khilafah Abbasiyah tak sanggup menguasai Spanyol? Ada kesan Umayah di Andalusia (Spanyol-Portigis) cenderung bersikap aman seperti Taiwan sekarang. Jika sekarang ada prinsip "satu China", dulu ada "satu khilafah".
4. Abad XII M, Shalahuddin al Ayyubi mendedikasikan kemenangannya atas Mesir dan Al Quds untuk khilafah Abbasiyah (di bawah Khalifah An-Nashr Lid Dinillah). Hal yang sama dilakukan Yusuf bin Tasyfin ketika menakhluklan seluruh Andalusia. Apa sih susahnya mereka berdua menjadikan wilayahnya independen. Kekuatan militer mereka tampaknya di atas Abbasiyah.
5. Bani Buwaih, bani Seljuk, bani Khwarism, bani Ayyub, dan kaum Mamluk dan bani Utsmani senantiasa membaiat khalifah Abbasiyah. Padahal militer khilafah sepenuhnya dalam kendali mereka.
6. Tahun 1517, Khalifah Al Mutawakkil menyerahkan estafet khilafah kepada Sultan Salim I ( bani Utsmani, cucu Muhammad al Fatih). Ini mengakhiri dualisme kepemimpinan di dunia Islam di mana Abbasiyah di Kairo berposisi semacam Bung Karno thn 1966, sementara Utsmani di Konstantinopel seperi Pak Harto. Mengapa tidak membagi dua saja atas kepemimpinan dunia Islam. Bukankah masing2 punya keistimewaan dan.kharisma?
7. Kecuali benteng canggih Konstantinopel, batas wilayah khilafah Umayah dulu adalah alam. Yaitu: Pegunungan Taurus, Samudera Atlantik, Pegunungan Pirennia, Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Gurun Gobi, Pegunungan Indus, Pegunungan Hindu Kush, Samudera Hindia, dan Gurun Sahara. Ini berarti, selain Kekaisaran Romawi, yang sanggup menghentikan umat Islam hanya alam. Selain itu, pasukan Islam terus melaju. Tak ada yang sanggup menghadapi. Mereka juga tak berpikir berhenti. Mengapa demikian?
8. Setelah kehancuran khilafah Utsmani tahun 1924, pada tahun 1925 diadakan konferensi Khilafah di Mesir oleh para ulama besar Islam sebagai ikhtiar mendirikannya kembali. Mengapa harus didirikan kembali?
Dari fakta2 di atas, kira2 POLA PIKIR yg semacam apa yg "mencengkeram" benak mereka semua (tokoh-tokoh terkait di atas) sehingga harus menjaga integrasi wilayah.?
Apa yang membuat para fuqaha, amir, dan panglima miter dan orang2 hebat lainnya, seperti "tercuci otaknya" sehingga tidak berani melangkah pada hal2 baru semisal negara berbasis wilayah atau bangsa sebagaimana sekarang?.


Baca Tulisan Lainya  : 




No comments